BAB 2-POTENSI BESAR KITA

Seorang Ulama Berkata,”Sesunggunya tampilnya islam karena tampilnya ummat, dan sesungguhnya tampilan ummat karena tampil para pemudanya. Dan Tampilnya pemuda karena kebaikan ahlaqnya.”

Sungguh Mahabesar Alah yang menciptakan orang-orang terdahulu sebagai percontohan kita. Aliran kisah para sahabat-sahabat terdekat Rasulullah bagaikan penyejuk hati pemuda-pemuda yang hari ini telah kehilangan figure idolanya. Akibatnya pemuda hari ini bergerak tanpa arah dan tanpa tujuan.

Entah mengapa tiba-tiba terbersitlah sebuah kisah di dalam benak saya mengenai sebuah kisah. Kisah tersebut adalah kisah dari salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw, Salman Al Farisi.

Dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘Anhuma berkata, “Salman al-Farisi Radliyallahu ‘Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, “Aku seorang Ielaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.

Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang berlanggung jawabatas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam. Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi kesana!’ Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).

Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?

Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hari, ‘Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.’ Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Dari mana asal usul agama ini?‘ Mereka menjawab, ‘Dari Syam (Syiria).’

Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, ‘Anakku, ke mana saja kamu pergi? Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?’ Aku menjawab, ‘Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari lempat itu sampai matahari terbenam,’

Ayahku menjawab, ‘Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.’ Aku membantah, ‘Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.’ Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.

Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampai kan kepada mereka, ‘Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.’ Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.

Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.

Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, ‘Siapakah orang yang ahli agama di sini?’ Mereka menjawab, ‘Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.’ Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, ‘Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.’ Pendeta itu menjawab, ‘Silahkan.’ Maka aku pun tinggal bersamanya.

Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sede-kah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.

Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk membumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, ‘Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk diri­nya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.’

Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, ‘Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?’ Aku menjawab, ‘Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.’ Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.’ Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, ‘Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.’ Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.

Kemudian mereka mengangkat orang lain scbagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintai-nya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.

Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu Iihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perin-tahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku. Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!’

Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, ‘Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.’

Kemudian orang yang kutemui itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.’ Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewa­siatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai. anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperli aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!‘

Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku. Orang itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’ Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.

Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, ‘Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewa-siatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.’

Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’ Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.

Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku un­tuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan? dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’ Kemudian orang ini pun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, ‘Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka. Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi. Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi, Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.

Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. la membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.

Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah men-dengar ceritanya karena kesibukanku scbagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku be-kerja di pcrkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, ‘Fulan, Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.’

Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, ‘Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?‘ Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, ‘Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.’

Aku menjawab, ‘Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.’

Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, ”Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. ‘Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.’

Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat, ‘Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, ‘Ini satu tanda kenabiannya.’

Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, ‘Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepa-da engkau.’

Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pembe-rianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, ‘lnilah tanda ke nabi an yang kedua.’

Selanjulnya aku menemui beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang dise-butkan Si Fulan kepadaku.

Pada saat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.

Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Geserlah kemari,’ maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagai-mana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.”

Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam suatu hari bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!’ Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang hams aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengumpulkan para sahabat dan bersabda, ‘Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.’ Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seo-rang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Berang-katlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletak-kannya di tanganku.’ Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan memberitahukan perihalku, Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari ram-pasan perang. Lantas beliau bersabda, ‘Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?’ Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebus-anmu wahai Salman!’

Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, ‘Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya.’ Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.’

(HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabranl dalam al-Kabir(6/222); lbnu Sa’ad dalam ath-Thabagat, 4/75; al-Balhaqi dalam al-kubra, 10/323.)

Sungguh indah desiran kisah hidup Salman. Setiap Detiknya penuh berisi dengan perjuangan. Setiap scene hidupnya memberikan manfaat bagi jiwa-jiwa yang menanti sebuah pelajaran yang berarti.

Marilah  kita belajar dari Salman alfarisi. Teoretis dirinya hanyalah pemuda biasa seperti kita semua. Salman bukan seorang nabi, tapi memiliki kemuliaan sangat tinggi di pandangan Allah dan Rasulnya karena ketaqwaannya.

Abu Hurairah Menyampaikan,”Ketika kami sedang duduk berkumpul, kemudian Rasulullah membaca ebuah ayat”Dan Dia (Allah) telah mengirim dia (Muhammad) juga kepada orang lain….” Aku berkata,” Siapa mereka, Ya Rasulullah? Rasul tidak menjawab sampai aku mengulang tiga kali pertanyaaku. Pada saat itu Salman al-Farisi sedang bersama kami. Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya pada Salman, kemudian berkata,”Jika iman berada di ath-Thurayya(bintang yang sangat jauh)Maka tetap orang-orang ini(salman) Akan tetap mendatangi untuk mencapainya.”

Sungguh Mulia diri salman di Mata Rasulullah.

Lama Saya berpikir bagaimana cara salman mencapai derajat setinggi itu. Sebuah drajat yang telah diusahakan untuk sejak masa mudanya yang penuh dengan gejolak. Kesimpulan akhir yang didapatkan atas pertenyaa tersebut adalah salman mampu mengoptimasi Kapasitas Internalnya. Menggunakan Seluruh potensi-potensi dasar yang dimilikinya. Potensi apa sajakah itu??

Berikut ini adalah potensi-potensi besar yang menjadi kelebihan kita sebagai Pajuang Da’wah Kampus:

  1. Potensi Idealiseme
  2. Potensi Intelektualitas
  3. Potensi Kritis dan peka social
  4. Potensi Keberanian
  5. Potensi Pengorbanan

2.1 Potensi Idealisme

Para pejuang da’wah kampus, rasanya berat sudah beban yang ada di pundak kita. Bergolak sudah kepala kita memikirkan urusan ummat. Sembab sudah mata kita menangisi semua ketidak berhasilan capaian yang sudah direncanakan. Lemas sudah kaki ini menahan sepak terjang perjalanan kita. Itulah fakta nyata kehidupan keseharian kita. Tapi janganlah pernah sekali-kali kita berpikir untuk menyerah seperti menyerahnya tentara kafir pada perang khandaq karena kita sebagai seorang muslim hanya menunggu salah satu diantara dua hal yang sudah Allah janjikan, Hidup mulia mencapai kemenangan atau Mati syahid, Isy Kariiman aumutsyahidan, Allahuakbar!!

Allah berkehendak mewarisi kita sebuah beban yang sangat berat yaitu cahaya da’wah islam. Sepatutnya kita mensyukuri ini karena ini merupakan bagian dari totalitas penghambaan kepada Allah swt.

“Barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meniggikan kedudukannya”(Muhammad:7)

“Dan sungguh Allah akan menolong orang yang membela agama-Nya.Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi mahaperkasa”(Al Hajj:4)

Tugas kita hari ini adalah mempertajam pemahaman kita.Mempertajam  idealisme kita sebagai seorang muslim dengan harapan kita tidak menjadi seorang muslim yang dengan mudahnya terbawa arus pemikiran yang kian liar yang menyebabkan dekadensi pemikiran umat islam hari ini.

Cara memperkuat idealisme kita adalah dengan cara:

  1. Loyalitas dan penolakan

Inilah tahap pertama dalam pembentukan karakter diri seorang muslim. Memahami syahadat yang dimilikinya dan konsekuensi setelah tekad tersebut ditanamkan dalam hati. Ketika kita berkata, “Asyhadu Allaaa illaaah….”,”aku bersaksi bahwa tiada tuhan…” artinya kita melakukan penolakan terhada penuhanan dalam bentuk apapun. Secara kasar seolah kita mengatakan bahwa saya tidak memiliki tuhan!!

Kemudian dilanjutkan dengan “ha illallah…”,”kecuali Allah” yang berarti kita memberikan loyalitas total kepada Allah tanpa memerdulikan tandingan-tandingan yang ada. Caranya adalah dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala laranganya dalam bentuk apapun.

 

  1. Memurnikan Ibadah dengan mengenal Rasulullah

Rasulullah bagaikan sebuah pelita di malam yang gelap. Pembawa cahaya kebenaran yang tak kan pernah redup. Pembawa manual book atas sesuatu yang disebut dengan manusia.

“Mereka(orang kafir) ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.”(Ash Shaff:8-9)

 

Dialah yang paling sempurna kebaikannya terhadap sesam manusia. Dialah yang paling zuhud menghadapi dunia. Dialah yang paling dekat dengan Rabbnya, Allah swt.

Terkenang kembali ketika masa-masa beliau kecil. Muhammad saw telah mengikuti pertemuan akbar dari para petinggi quraisy sambil bermain di atas pangkuan kakeknya, Abdul Muthalib. Salah seorang dalam forum itu berkata,”singkirkan anak itu karena anak tersebut tidak sebaikny ada di sini.” Abdul Muthalib pun berkata,”Biarlah ia disini karena ia kelak akan menjadi pembesar dunia.”

Muhammad pun bertambah dewasa. Ketika suatu hari terjadi pertikaian antar bani-bani di mekah mengenai pemindahan Hajar Aswad, maka Muhammad pun menjadi solusi yang menentramkan. Solusinya adalah dengan menyimpan hajar aswad di atas sebuah kain, kemudian setiap petinggi bani membawanya di setiap sisinya. Setelah itu berakhirlah pertikaian yang terjadi antara pemimpin kabilah di Arab dan Rasulullah Muhammad digelari sebagai Al Amin.

 

Dialah Rasul yang membawa alqur’an dan Assunah sebagai pedoman hidup manusia yang mencakupi seluruh aspek kehidupan manusia tanpa satu kekuranganpun. Dari hal-hal yang sifatnya pribadi sampai pengelolaan Negara sudah termaktub di dalam al qur’an dan assunnah. Oleh karena itu Insya Allah pengklaiman:

“Alf Lam Mim. Inilah al qur’an yang tidak ada keraguan didalamnya”(al baqarah: 1-2)

adalah pernyataan yang mutlak benarnya dan tidak ada kebimbangan lai melaksanakannya. dan sebagai kesimpulan akhir kita harus mengikutinya dengan penuh keyakinan dan pengharapan terhada Jannah-Nya kelak.

 

  1. Memahami Konsekuensi Cinta

Inilah cinta yang ditanamkan pada hati setiap orang yang memberikan kenyamanan kepada siapapun yang merasakannya. Inilah cinta yang bisa membuat orang melakukan apapun, dimanapun, dan kapapun. Inilah cinta yang mampu menguatkan semangat dalam berperang melawan kebatilan. Inilah cinta kita kepada Allah dzat yang maha mengetahui apa yang terjadi di muka bumi ini tanpa ada satupun yang luput.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Cinta adalah proses dua arah yang terdiri dari pencinta(yang mencintai) dan tercinta(yang dicintai). Sudah selayaknyalah pencinta dan tercinta ini memiliki pola interaksi khusus yang mampu menjaga agar keduanya tetap selalu menjaga konsistensi cintanya. Pola-polainteraksi tersebut adalah:

  1. Mencintai apapun dan siapapun yang dicinai sangkekasih

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(An Nisa:69)

Itulah orang-orang yang Allah cintai. Nabi-Nabi, Shidiqin, Syuhada, dan Shalihin. sebagai kunci penghambaan kita kepada Allah adalah dengan kita tanpa ragu mencontoh orang-orang yang dicintai oleh Allah tersebut.

Marilah kita mencontoh Kesabaran Nuh as, Keadidayaan sulaiman as, kebijaksanaan yusuf as, keteguhan musa as, ketaatan Ibrahim as, kelembutan isa as, dan totalitas Muhammad saw. dari golongan Nabi.

Marilah kita contoh kekuatan Khalid bin walid, kepaandaian salman al farisi, daya dukung ekonomi khadijah, karismatisme bilal bin rabbah sebagai sebagian dari goongan shidiqin dan syuhada.

dan masih banyak lagi shalihin hari ini yang patut kita contoh sebagai cara kita mencintai apa yang Allah cintai

  1. Membenci apapun dan siapapun yang dibenci sang kekasih

Konsekuens cinta kedua sebagai sarana totalitas penghambaan adalah dengan mebenci apapun dan siapapun yang dibenci sang kekasih.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala”(Faathir:6)

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”(Al Baqarah:205)

dan masih banyak lagi ayat-ayat yang emnyatakan ketidakcintaan-Nya Terhadap sesuatu seperti allah tidak mencintai orang-orang yang kikir, dusta, khianat, bodoh, dzalim dan seterusnya. Tentu saja ini adalah suatu hal yang perlu kita pahami sebagai sesuatu yang sangat tidak kita cintai dalam kehidupan kita.

  1. Memahami kondisi Ummat hari ini
  2. Memahami keberadannya perang pemikiran
  3. Da’wah sebagai solusi restrukturisasi Ummat

-bersambung–

 

BAB1-INILAH KITA, PARA PEJUANG DA’WAH KAMPUS

BAB 1—INILAH KITA, PARA PEJUANG DA’WAH KAMPUS–

Wahai para pejuang da’wah kampus. Aku ingin mengatakan bahwa hari ini kita bukan lagi mahluk yang biasa. Kita Lahir dengan luar biasa. Muncul dengan luar biasa. Kemudian berjuang dengan luar biasa. Juga memiliki tujuan yang luar biasa.

Niatan kita murni. Niatan kita sahih. dan Insya Allah akan selalu kita tekadkan hanya untuk mencari ridha Allah.

Jika aku mengingat hari-hari kita, seolah aku mengingat kisah awal kehidupan Musa(Surat Al Qasas). Disana terdapat rezim tirani menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat. Penindasan dan penyiksaan bukanlah suatu hal yang terpisahkan lagi dari kehidupan sehari-hari rakyat Bani Israil di Negeri Nil. Penderitaan rakyatpun bertambah dengan adanya dukungan oleh kekuatan penyimpangan koptik para pemuka agama yang ingin mendapatkan kekuasaan politis plus kekuatan modal pergerakan yang diskong oleh Haman sehingga kompleksitas problema yang ada sudah tak bisa terbendung lagi.

Suatu Hari, firaun memerintahkan kepada seluruh rakyatnya menyembelih semua laki-laki yang lahir karena dikhawatirkan akan merebut kekuasaanya. Pada masa itulah musa kecil lahir dengan gagah berani, yaitu masa ketika darah-darah bayi kecil membasahi sungai nil.

Ummi musa pun berpikir keras bagaimana caranya agar anak ini(Musa) selamat dari represifitas firaun. Akhirnya Allah membisikan sebuah kalimat yang menenangkan hati sang ibu. Biskannya adalah,” Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.””(al Qasas:7)

Sang ibu pun mengalirkan anaknya di atas sungai nil. Sungguh tak disangka-sangka, Allah menakdirkan aliran sungai membawa Musa kecil ke arah kerajaan fir’aun. dan yang lebih tak disangka lagi ternyata yang menemukan Musa adalah Istri dari sang Tiran, Istri dari Fir’aun. Fir’aun sempat berniat membunuh bayi tersebut, tapi Allah berkehendak lain. “Dan berkatalah isteri Fir’aun, “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa’at”(al Qasas: 9)

Kisah pun berlanjut. Bayi kecil ini bayi yang mulai melawan rezim sejak bayi, ketika ia mulai menyusu. Musa tidak mau bersusu kepada siapapun. Paniklah Istri Fir’aun dan sontak mencari ke seluruh antero mesir siapa yang ampu menyusui bayi tersebut. Singkat cerita akhirnya Istri Fira’un menemukan seorang wanita yang musa mau menyusuinya.dan siapakah yang menyusui musa??

“dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.””(al Qasas: 12-13)

Maha besar Allah yang telah menakdirkan janjinya pada Al Qasas:7 dan terjadi pada Al Qasas:14.

Saudara seperjuangan…

Bulan dan bintang kan menjadi saksi perjuangan kita di siang dan malam hari. Taqarub dan mujahadah silih berganti memenuhi hari. Kerigat dan air mata menjadi tanda bukti atas kelelahan yang telah terjadi.

Beginilah memang jalan ini. Jalan risalah para nabi yang tidak pernah diisi oleh orang yang banyak. Jalan yang penuh onak dan duri tetapi tetap harus kita jalani. Pahit dan getir merupakan bagian yang tidak terpisahkan lagi sebagai hakikat jalan ini. Tapi ingat sahabt bahwa Allah menjanjikan Surga sebagai balasan kita. Sebagai tujuan akhir kita. Sebagai Rumah kekal bagi kita di fase terakhir kehidupan kita. KetikaAllah mengalunkan:

“Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah;”(Al Kahfi:31)

Coba rasakanlah bahwa kita sedang duduk di bawah sebuah pohon yang sangat rindang sambil memakai baju paling lembut yang pernah kita ketahui yang mampu mengelus halus semua permukaan kulit kita. Selanjutnya dI depan mata kita terdapat sugai yang mampu mengalirkan sebuah cit-cita dan harapan mencapia hidup yang lebih baik. Nikmatkah hati kita membayangkannya?? Insya Allah kita yakin 100% bahwa inilah yang kita inginkan. Ini adalah janji Allah, dzat yang Mahapencipta keberadaan manusia dalam kondisi yang sebaik-baiknya dan pasti akan terjadi kepada kita semua jika kita selalu istiqamah di jalan-Nya.

Saudara Seperjuangan….

Kondisi tersebut tidak akan pernah bisa kita capai dengan hanya berdiam diri saja. Sebagai Da’I Thulabiyah(pelajar) harus memahami beberapa hal:

  1. Potensi Besar Kita
  2. Proses Mencapai Potensi-potensi terebut.
  3. Cara-cara mempertahankan konsistensi Amal.
  4. Hakikat kita sebagai pejuang bersama.

Catatan kecil 160990 (1)

Kata Rizky alvian pahlevi

lagi-lagi saya bergetar setelah membaca petuah Ust. Rahmat Abdullah..

Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
pikiranmu..
perhatianmu..
berjalan, duduk, dan tidurmu..
bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu tentang dakwah..
tentang umat yang kau cintai..
lagi-lagi memang seperti itu dakwah..
menyedot saripati energimu.
sampai ke tulangmu.
sampai daging terakhir di tubuh rentamu.
Tubuh yang luluh lantak diseret-seret..
tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari..

Semangat Kawan!

Catatan kecil 14092011 (2)

Don`t waste your 5 minutes…
Itu kata saudaraku yg tercinta..

Ganbatene…

Catatan Kecil Hari ini (1)

TETAP SETIALAH KEPADA CITA-CITA

dan


TETAP BERTAHANLAH DENGAN RASA SAKIT …Innallahama’ana^^

entah ya mengap.. tapi saya merasa bangga pernah main angklung sama kpa sman 3 bdg 2 tahun

Semalam baru saya memegang angklumg setelah lebih dari 4 tahun tidak menyentuh angklung samasekali.
Jadi inget jj,melon,alvin,ofu,ariman,eja baong. Golongan laki2 yg terbatas diantara seantero dunia perkpaan. Bayangkan saja. Dari sekitar hampir 100 orang yang ada. Lakinya hanya segitu Padahal di angkatan bebek ini meruipakan angkatan dengan lelaki terbanyak…

Alhamdulillah…
Life is beutifull isn`t it?

FUTURE AIR PLANE

Pesawat Terbang Masa depan

Airbus has unveiled a futuristic concept for a transparent plane that may be everyday air transport in 2050. With its see-through aircraft cabin, passengers of the future will get a window on the world as they fly through the sky. They will be able to see everything to the sides and in front of them.

The concept cabin unveiled at the Royal Observatory in Greenwich, London, would be a bionic structure that ‘mimics’ the efficiency of the bird bone, claimed the company.

It would provide strength where needed, and also allows for an intelligent’ cabin wall membrane, which controls air temperature and can become transparent to give passengers open, panoramic views.

The company believes that mid-century passengers might be able to enjoy a game of virtual golf or take part in interactive conferences, while the cabin ‘identifies and responds’ to travelers’ needs.

In the ‘interactive zone’ there are virtual pop-up projections taking passengers to whichever social scene they want to be in, from holographic gaming to virtual changing rooms for active shoppers.

The ‘smart tech zone’ is tailored towards the more functional-orientated passenger with what Airbus describes as ‘a chameleon-style offering.’

It aims to meet individual needs ranging from a simple to a complete luxury service, but all allowing ‘you to continue life as if on the ground’.

“Our research shows that passengers of 2050 will expect a seamless travel experience while also caring for the environment,” the Daily Mail quoted Airbus engineering executive vice-president Charles Champion as saying.

“The concept cabin is designed with that in mind, and shows that the journey can be as much a voyage of discovery..

Belajar mengenali hidup dengan Natural Linkage

Belajar mengenali hidup dengan Natural Linkage

Pagi ini angin semiliir berhembus meniup rimbunnya pepohonan di hutan hujan tropis yang elok ini. Sejujurnya, angin ini tidak berniat untuk menerbangkan apapun Tapi sayangnya tanpa sengaja sangangin membawa benang sari terbang meningalkan rumahnya yang telah lama ia tinggali. Perlahan sangbenangsari mengambang menikmati indahnya alam sambil bertanya-tanya,”kemanakah aku akan dibawa?”. Sangangin pun terdiam membisu karena dirinya pun tak sengaja membawa sang putik pergi ke anai-anai udara. “Mudah-mudahan engkau bisa jatuh di tempat yang baik, Hanya itu yang bias aku katakan.“Ujar sang angin. Tanpa ia sadari sesungguhnya sangangin yang memberikan apresiasi tinggi akan kehidupan baru yang akan lahir di waktu yang akan datang. Benang sari tak pernah tahu akan jatuh dimana(sampai suatu saat ia akan tahu bahwa ia jatuh diatas bantalan empuk bernaama putik). Sesungguhnya sang putik pun sama, tidak pernah tahu apa yang segera menempel pada dirinya. Namun mereka tidak peduli karena tahu setiap hal pasti telah Allah takdirkan. Yang mereka pahami adalah orang tua mereka dulu mengajarkan sebuah kalimat,”Kau tidak akan pernah tahu engkau akan bertemu siapa, tapi selalu tunjukanlah yang terbaik yang engkau miliki karena kamu akan mencapai kemenangan dengan cara itu.” Maka mereka tahu bahwa, tugas ugas mereka hanyalah mengeluarkan yang terbaik yang mereka miliki. Setelahnya berharap bahwa yang bertemu dengan mereka adalah yang terbaik bagi mereka. Mudah-mudahan Allah mempertemukan mereka dengan yang terbaik.

Maka coba renungkan bahwa tugas kita itu adalah bagaikan pertemuan antara benang sari dan putik. Benang sari tidak pernah tahu angin akan membawa dirinya ke kepala putik yang mana. Pun demikian putik tak pernah tahu siapakah gerangan yang akan hinggap di kepalanya. Namun, apapun yang terjadi, pastilah pertemuan tersebut akan menghasilkan bibit-bibit baru dengan pembawaan sifatnya masing-masing yang belum tentu sama antara putik yang satu dengan yang lain, juga benang sari yang satu dengan benang sari yang lain.

Nah, Berhubungan dengan itu, Sesungguhnya realitas hidup kita itu sangat mengenal tingkat randomitas yang tinggi. Siapakah yang pernah tahu bahwa kita akan melihat seorang ibu tiba-tiba melahirkan di dalam angkot? Siapakah yang mengira bahwa dalam waktu 5 menit kedepan kita akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar? Atua ternyata 30 detik lagi nyawa kita akan dicabut izrail?

Maka disinilah skill kita meningkatkan kepekaan untuk mendapatkan manfaat dari setiap hal yang kita kerjakan. Kemudian memberikan respon terbaik yang bisa kita berikan. Bukankah seseorang hany bisa memberikan apa yang ia miliki? Andaikan respon buruk yang keluar, artinya memang diri kitalah berisi hal-hal yang buruk. Hal ini berlaku sebaliknya. Allah telah mengatur hubungan dari setiap hal yang sudah ada. Bahkan Allah pun mengatakan bahwa di lauhul mahfudz dulu Allah telah menentukan rezaeki, jodoh, dan maut kita. Inilah Natural Linkage, hubungan-hubungan rasional yang telah ada dan terencana dari berbagai faktor-faktor random yang tidak pernah kita ketahui. Salah satu cara mengenali kehidupan kita agar kehidupan kita menjadi lebih baik adalah dengan mengenali linkage-linkage yang ada hasil pertemuan factor-faktor random tersebut. Kita tidak akan pernah tahu kapan kebakaran datang, tapi kita harus tahu jika terjadi kebakaran apa yang seharusnya kita kerjakan.

Termasuk dalam da’wah ini akhi wa ukhti. Kita tidak pernah tahu kapan seorang futur, kapan munculnya rasa hati seseorang terhadap lawan jenisnya, kapan rektorat akan menutup LDK kita. Maka kita harus mencoba mencari formulasi solusinya sebelum hal tersebut terjadi.sebagai respon terbaik dari setiap kemungkinan yang ada. Memang tidak semua hal linkagenya bisa kita temukan, tapi sekali lagi. Just do the Best, Insya Allah you’ll get tehe Best/

Sip…

Jazakallah ahsanul jaza’

Reza Asriandi Ekaputra

12 Juli 2011

06.38-07.06

 

Gear Landing Test for Airplane(Goodrich coorperation)

Goodrich Corporation has unveiled the world’s largest aircraft landing gear test facility at its site in Oakville, Ontario, Canada.

Goodrich, one of the world’s largest suppliers of landing systems for commercial and military aircraft, is providing the body and wing landing gear for the Airbus A380 — the world’s largest commercial airliner. The Oakville test facility was built to accommodate the A380 landing gear.

The facility encompasses 2,100 square meters (22,604 square feet) of floor space. It houses a Super Rig for structural testing which includes strength and fatigue testing of the A380 body and wing landing gears. The test rig rests in a cavity 55 meters long (180.5 feet) and stands approximately 8 meters high (26 feet). In addition to the Super Rig, the facility accommodates rigs for endurance testing.

Officials from Airbus and the Canadian government joined Goodrich employees for today’s unveiling. Addressing the audience, Marshall Larsen, Goodrich Chairman, President and Chief Executive Officer said, “Today’s event is a very proud moment for all of us at Goodrich, and marks another milestone in the development of our relationship with Airbus. When the A380 takes off for its first flight, it will do so with a myriad of Goodrich products on board, from landing gear to the electric power system, air data system, flight controls, evacuation slides, and cargo system, as well as lighting, seating and several structural components.”

Allan McArtor, Chairman, Airbus North America, said, “This event today is symbolic of the global inter-connectivity of our industry. A European airplane manufacturer awards an American aerospace company a contract to build landing gear tested and assembled in Canada for an airplane that will be sold to airlines around the world and operated all over the planet.”

Goodrich’s design and production of the A380’s landing gear systems is truly a global effort. Components for the landing gear system are being made by Goodrich Landing Gear facilities in Cleveland, Ohio; Tullahoma, Tennessee; Oakville, Ontario; and Krosno, Poland. Final gear integration occurs at the Goodrich facility in Toulouse, France before delivery to Airbus’ final assembly line.

Goodrich Corporation, a Fortune 500 company, is a leading global supplier of systems and services to the aerospace and defense industry. If there’s an aircraft in the sky — we’re on it. Goodrich technology is involved in making aircraft fly … helping them land … and keeping them safe. Serving a global customer base with significant worldwide manufacturing and service facilities, Goodrich is one of the largest aerospace companies in the world.

Bismillah… RANCANA KULIAH SEMESTER DEPAN

Alhamdulillah… Sudah mau lulus lagi ya tahun depan..

Segere menongsong Reza Asriandi Ekaputra, S.T. M.T.

No Kode Nama SKS
1 SI4098 Kerja Praktek 3
2 SI4111 Rekayasa Struktur 3
3 SI4151 Metode dan Peralatan Konstruksi 3
4 SI4141 Evaluasi dan Pemeliharaan Prasarana Transportasi 3
5 PL2104 Infrastruktur Wilayah & kota 3
6 SI3112 Struktur Beton(ngulang uy^^) 3
7 SJ5122 Perancangan transportasi dan Pembangunan (Yeee. S2.. Fastrack-fastrack) 3
8 SJ5121 Rekayasa Lalulintas (Yeee. S2.. Fastrack-fastrack) 2

TOTAL

23